DAFTAR ISTILAH

Author: Rian Saepuloh /

Anggoan : pakaian, bahasa halus dari pakean. Panganggo, adat kebiasaan; bahasa halus dari pamake. 
Bewara : berita, kabar 
Bungsu : bontot, terakhir, termuda (anak).
Canoli : seorang perempuan yang sudah tua dan yang di tuakan untuk mengatur di dalam goah 
Goah : kamar untuk menyimpan beras dan makanan lainnya.
Jangjawokan : mantra
Karembong : selendang
Karuhun : leluhur, nenek moyang.
Kasumpingan : kedatangan 
Keupat : lenggang 
Lalayaran : berlayar 
Mubah : mubazir, pekerjaan sia-sia.
Netes : meneteskan air
Ngahaleuang : menyanyi; haleuang, suara orang menyanyi; hahaleuangan, bernyanyi-nyanyi
Ngalungsurkeun : mengundang; lungsur, turun.
Ngibing : menari; ibing, tari 
Nginebkeun : menyimpan kembali 
Ngiringan : ikut, turut serta 
Nyambat, sambat : mengajak, menyuruh datang atau mendekati
Pare : padi
Saehu : ahli, guru
Sinjang : kain panjang atau sarung; bahasa halus dari samping atau sarung 
Tukang : orang yang mempunyai keterampilan dalam suatu pekerjaan; orang yang suka atau bisa 
Totopong : ikat kepala
Wulung : hitam


Fungsi Tarawangsa

Author: Rian Saepuloh /

Tarawangsa memiliki banyak Fungsi diantaranya:
1. rubuh jerami ampih parwe yaitu sewbagai pwenghormatan twerhadap dewi sri.
2. ngaruat rumah baru.
3. sebagai hiburan atau huripan kampong.
4. hajatan
5. upacara adat
6. sambutan terhadap tamu negara
adapun hal-hal sacral yang terjadi dalam proswesi tarawangsa yaitu:
Adanya saehu
Mwenggunakan kukus
Pangradinan
Untuk saehu mwenggunakan minyak, sisir, dupa, salam dan do’a.


Lagu-lagu Tarawangsa

Author: Rian Saepuloh /

Lagu-lagu pada seni tarawangsa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu ;

1. Lagu pokok yang terdiri dari lagu pangemat, pangapungan, pamapag, panganginan, panimang, lalayaran, dan bangbalikan. 
2. Lagu pilihan yang terdiri dari lagu mataraman, saur, iring-iringan, jemplang, bangun, karatonan, buncis, angin-angin, reundeu, ayun ambing, reundah reundang, kembang gadung, dan panglima.

Bentuk dan makna simbol pada lagu-lagu pokok tarawangsa (dilihat dari judul-judul lagu) adalah sebagai berikut: 
a. Pangemat, berasal dari kata ngemat yang artinya memanggil, dalam hal ini yaitu menggambarkan pemanggilan Dewi Sri untuk datang ke tempat upacara berlangsung.
b. Panimang, berasal dari kata nimang yang artinya mengayun-ayun hal tersebut melukiskan Dewi Sri sedang ditimang-timang.
c. Pamapag, berasal dari kata papag yang berarti jemput, hal tersebut menggambarkan penjemputan datangnya Dewi Sri.
d. Pangapungan, berasal dari kata ngapung yang berarti terbang, hal ini menggambarkan Dewi Sri sedang terbang.
e. Panganginan, berasal dari kata ngangin yang berarti istirahat, yang menggambarkan jika Dewi Sri sedang beristirahat.
f. Lalayaran, berasal dari kata lalayar yang artinya tamasya yang menggambarkan Dewi Sri sedang bertamasya.
g. Bangbalikan, berasal dari kata balik yang berarti pulang hal tersebut menggambarkan proses mengantarkan pulangnya Dewi Sri ke dalam ruangan penyimpanan.

Urutan upacara berdasarkan iringan lagu : 
Setelah alat-alat persiapan dan sesajen tersedia, maka upacara pun dimulai dari jam 19.30 wib (setelah shalat Isya). Sesepuh duduk bersila menghadapi parupuyan dan alat-alat perlengkapan sambil membagikan-bagikan kemenyan kepada sesepuh lainnya agar dimantrai. Kemudian kemenyan-kemenyan tersebut dipungut kembali, lalu dibakarnya disertai mantra-mantra dengan maksud bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Rasul-Nya. Demikian pula kepada para leluhurnya. 
Di bawah ini adalah urutan penyajian lagu tarawangsa dalam mengiringi upacara: 
1. Upacara diawali dengan penyajian lagu pangemat, sebagai lagu pengundang Dewi Sri agar segera datang di tempat tersebut.
2. Disusul oleh lagu panimang untuk mengiringi acara ngalungsurkeun yaitu menurunkan seikat padi sebagai lambang Dewi Sri. 
3. Lagu pamapag digunakan saat prosesi penjemputan Dewi Sri oleh sesepuh sambil membawa pakaian dan aksesoris lainnya yang akan dikenakan kepada padi tersebut.
4. Dibelakangnya diikuti oleh ibu-ibu yang membawa bunga-bungaan, minyak kelapa, daun hanjuang dan mangkuk berisi beras dengan tektek di atasnya yang diiringi lagu pangapungan.
5. Sesudah itu padi disawer yang diiringi lagu panganginan.
6. Upacara kemudian dilanjutkan dengan acara bersukaria yaitu menari bersama yang pimpin oleh seorang saehu berpakaian lengkap (jas hitam, berkain batik, iket), di pinggangnya terlihat sebilah keris yang dililiti dengan karembong atau sampur. Diikuti oleh penari pria yang disusul oleh penari wanita yang berpakaian kebaya dalam lagu lalayaran.
7. Lagu bangbalikan mengiringi prosesi terakhir yaitu nginebkeun atau netepkeun yaitu menyimpan padi yang dihias tadi ke dalam ruangan penyimpanan. Ini menggambarkan bahwa Dewi Sri akan menetap di sana.
Musik tarawangsa dimainkan secara instrumental dalam tangga nada atau laras pelog dan salendro. Dalam penyajiannya, alat musik tarawangsa berfungsi sebagai pembawa lagu atau melodi, sedangkan alat musik kacapi berfungsi sebagai pengiring lagu. 


Benda-benda Yang Di Pakai Sebagai Ciri Saehu dan Paibuan

Author: Rian Saepuloh /

Kalau tidak ada sesuatu hal yang membedakan antara pemimpin dan masyarakat, maka orang setiap orang dalam masyarakat akan merasa sama. Akan tetapi, ketika seorang pemimpin memiliki ciri khas baik dari pakaian ataupun properti yang digunakannya maka sudah barang tentu ada perbedan dengan anggotanya. Seperti telah diungkapkan oleh Burke mengenai teori pembentukan identitas.
Dalam pergelaran Tarawangsa sebagai upacara hormatan ada yang dijadikan pemimpin untuk melaksanakan rangkaian upacara hormatan tersebut yang disebut Saehu untuk pemimpin penari laki-laki dan Paibuan untuk pemimpin penari perempuan. Kita dapat membedakan antara Saehu dan Paibuan dengan penari yang lainnya/tamu ketika menari yakni dari benda yang digunakan. Pada saat menari Saehu menggunakan; 
a. Ikat kepala (dalam bahasa sunda totopong)
 

Gambar 18
Totopong (ikat kepala
b. Kain matra kusumah (sinjang rereng) 
 
Gambar 19
Sinjang Rereng

c. Keris. 
 
Gambar 20
 Keris 

Sedangkan untuk Paibuan menggunakan:
a. Renda berwarna putih
 
Gambar 21
Renda

b. Sisir dan Gelang 

 

Gambar 22
Gelang dan Sisir
Sisir digunakan oleh Paibuan yang tidak berjilbab, tetapi jika Paibuannya berjilbab sisir yang disediakan tidak dipakai juga tidak apa-apa.
Benda-benda yang dipakai oleh Paibuan pada saat nema paibuan dapat dipindahkan kepada orang yang sudah kedatangan roh nenek moyang (dalam bahasa sunda kasumpingan). Berdasakan keterangan yang diperoleh dari informan ketika seseorang sudah kedatangan (kasumpingan) maka akan kelihatan dari gerak yang dibawakan akan kelihatan sangat diresapi dan juru saksi (dalam bahasa sunda tukang ngukus) yang dapat melihat apakah seseorang kasumpingan benar-benar atau hanya pura-pura. 
Benda yang dipakai sebagai tanda menyerahkan giliran menari dari laki-laki kepada perempuan yaitu selendang berwarna putih, hijau, dan merah. 
 
Gambar 23
Selendang (karembong)
Selendang tersebut merupakan gambaran dari manusia, dimana selendang warna putih menggambarkan manusia yang baru lahir, masih suci belum punya dosa. Kemudian warna hijau menggambarkan manusia yang menginjak dewasa, dan warna merah menggambarkan manusia yang sudah berlumur dosa. Dalam pergelaran Tarawangsa orang yang menari pertama akan memakai selendang warna putih, kemudian setelah mulai dapat merasakan tempo, irama dan menghayati musik dan gerak maka ditambah dengan selendang berwarna hijau, apabila sudah mencapai puncak atau sudah kasumpingan (kedatangan roh) maka ditambah lagi dengan selendang berwarna merah. Apabila sudah tidak tertahan lagi atau sudah kelihatan tidak karuan geraknya maka dinetralkan lagi dengan selendang wulung sehingga penari kembali tenang, seperti halnya keris selendang wulung juga diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan ketenangan.
  Gambar 24
Karembong Wulung


Dampak sosial yang timbul dari pelaksanaan pergelaran Tarawangsa pada upacara hormatan merupakan cerminan hidup yang harus tetap dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya, karena sangat mengandung nilai sosial yang tinggi, salah satunya nilai gotong-royong. 
   


Urutan tata upacara dalam pergelaran Tarawangsa dalam upacara hormatan

Author: Rian Saepuloh /

Prosesi dimulai dari jam 21.oo sampai 03.oo dini hari..
Prosesi diawali dengan:
a. Ngalungsurkeun (mengeluarkan bibit padi)
Ngalungsurkeun memiliki makna menurunkan keberkahan, yakni dengan mengelurkan bibit padi (pare bungsu) dari goah Kemudian disimpan dekat sesajen dengan tujuan supaya bisa dapat berkah dari hadirnya Dewi Sri serta arwah-arwah para leluhur (karuhun). Acara ini dipimpin oleh Saehu dan Paibuan yang diikuti oleh tamu perempuan yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah tempat bibit padi yang tersedia di pajemuhan/goah. Bibit padi yang dikeluarkan itu adalah milik para tamu yang menyimpan (ngiringan) dalam tempat kecil seperti rantang atau juga ada tempat yang dinamakan pipiti dengan tujuan agar bibit padinya mendapat do’a dari semua yang hadir sehingga bisa mendapatkan berkah bibit padi yang bagus juga karena menurut kepercayaan mereka Dewi Sri (Dewi Padi) dan para leluhur (karuhun) akan hadir. 
Laki-laki yang ikut dalam acara ini hanya Saehu saja yang membawa anggoan (pakaian) yang punya rumah (rurukan). Seperti terlihat pada gambar 07, seorang laki-laki (Saehu) membawa nampan yang berisi pakaian yang punya rumah (rurukan).
 
Gambar 07
Saehu dan Paibuan memimpin acara Ngalungsurkeun
 
Gambar 08
Salah seorang kasepuhan sedang menyimpan benih padi dekat sesajen 
b. Netes
Acara ini dilakukan oleh seorang ibu (canoli). Kegiatan yang dilakukan yakni meneteskan air dengan daun sirih kedalam setiap tempat bibit padi sambil bernyanyi (dalam bahasa sunda ngahaleuang) yang berisi do’a dan harapan agar bibit padi yang kelak akan ditanam dapat membuahkan hasil yang baik. Menurut keterangan biasanya do’a tersebut berbentuk mantra (jangjawokan) dengan memiliki keyakinan “Dewata Maring Manusa, Manusa Maring Dewata” yang artinya bahwa dalam kehidupan kita tidak akan lepas dari pengaruh-pengaruh roh leluhur atau arwah-arwah yang dikeramatkan (karuhun), kalau kita berdekatan saling menghargai. 

 
Gambar 09
Salah seorang kasepuhan (canoli) sedang berdoa sebelum netes
 
Gambar 10
Kasepuhan (canoli) sedang netes



c. Nema Paibuan
Pada nema paibuan ini ada lima orang penari perempuan yakni Paibuan, yang punya rumah, dan tiga orang penari dari grup Tarawangsa.
Nema sendiri artinya bertemu, disini yang pertama menari adalah Paibuan dengan lagu saur atau sering disebut saur pangembat dengan maksud memberikan pengumuman (bewara) kepada tamu yang hadir bahwa akan kedatangan Dewi Sri yang datang dengan berlayar yang digambarkan dengan lagu lalayaran kemudian diikuti oleh penari yang lainnya saling bergantian, sampai selesai yang lima orang tadi.



 
Gambar 11
Memindahkan benda-benda sebagai ciri Paibuan kepada penari lain yang sudah kasumpingan.



d. Hiburan Perempuan dan Hiburan  
Laki-laki
Pada acara ini semua tamu yang hadir pada pergelaran Tarawangsa dipersilahkan untuk menari (dalam bahasa sunda ngibing), semua tamu mendapat hak untuk menari. Acara hiburan diawali oleh Paibuan bersama yang tamu yang lain yang jumlahnya harus ganjil bisa lima orang, tujuh orang, atau sembilan orang dilanjutkan para tamu perempuan (ibu-ibu) sampai sekitar tengah malam. Kemudian Paibuan menyerahkan selendang kepada Saehu sebagai tanda mempersilahkan kaum laki-laki (bapa-bapa) untuk menari. Seperti halnya tamu perempuan, semua tamu laki-lakipun mendapatkan hak yang sama untuk mendapat giliran menari asal tempatnya tidak telalu penuh, jadi bergiliran.

 
Gambar 12 
Tamu perempuan yang hadir sedang menari 


e. Nyumpingkeun (pohaci/icikibung)

Kegiatan ini diawali oleh Paibuan dengan menari sambil memanggil (nyambat) Dewi Sri dan arwah para leluhur (karuhun) dengan kalimat seperti berikut: “mangga nyi prapohaci enggal gera ngaluuh, disuhunkeun enggal sumping” kalimat tersebut bukan suatu kalimat yang baku harus diucapkan oleh Paibuan ketika nyambat, tetapi kalimat ungkapan sendiri. Jadi setiap Paibuan akan berbeda-beda saat nyambat, bahkan dari seorang paibuan saja dari satu tempat ke tempat lain akan berbeda pula yang diucapkannya. Setelah nyambat selesai, Paibuan menari yang kemudian diikuti oleh tamu perempuan. Berdasakan keterangan yang diperoleh dari informan yang biasa menjadi Paibuan ketika mereka sudah kasumpingan akan merasakan bahwa dia menjadi sosok karuhun yang datang. Siapa yang datang nanti akan tercermin dalam gerakan, ada yang gagah berarti yang datangnya karuhun laki-laki, kalau bergeraknya mengalun, halus, yang datang berarti perempuan. Pada acara nyumpingkeun ini arwah leluhur yang dipanggil biasanya dari leluhur keluarga yang punya hajat, dan datangnya (sumping) harus kepada yang punya rumah (rurukan). Kalau tidak datang (sumping) kepada yang punya rumah mereka menganggap acara yang diselenggarakan oleh rurukan itu kurang bermanfaat (ungkapan informan mubah). Ketika rurukan sudah kasumpingan maka penari yang lainnya mengelilingi rurukan, kalau tidak dikelilingi bisa saja sampai jatuh karena badan yang kasumpingan akan terasa lemas (keterangan dari ibu Ayo). Untuk membantu agar tetap kuat dihadirkan keris yang mereka yakini secara magis dapat memberikan kekuatan kepada yang kasumpingan.
Kejadian tersebut memang kalau secara logis tidak akan dimengerti, akan tetapi peneliti memiliki pandangan bahwa ketika dalam nyumpingkeun itu sebenarnya hanya sugesti dari penari saja yang sedang membayangkan atau ingat kepada para leluhurnya, dengan iringan musik yang mengalun bergerak mengikuti alunan, sehingga mereka membayangkan para leluhur (karuhun) mereka sedang ikut pula menari.
Sukses atau tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa dalam acara hormatan dilihat dari banyak atau tidaknya yang kesurupan juga pada acara nyumpingkeun apakah ada karuhun yang datang atau tidak, keyakinan seperti itu sekarang sudah mulai diabaikan, karena pola pikir masyarakat pendukung kesenian tersebut sudah berkembang, sehingga sukses dan tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa pada upacara hormatan itu ditentukan dengan banyak atau sedikitnya tamu yang hadir. Akan tetapi walaupun pandangan berbeda tetap tidak akan mengurangi nilai kesakralan pada upacara hormatan.
 
Gambar 13 
Acara nyumpingkeun
Rurukan (yang punya rumah) sudah mulai kasumpingan. 
 
Gambar 14
Keris yang dihadirkan agar yang kasumpingan tetap kuat.

 
Gambar 15
Yang punya rumah (rurukan)
Sudah kuat untuk menari lagi

f. Nginebkeun (menyimpan kembali bibit padi)

Nginebkeun mempunyai makna menempatkan Dewi Sri pada tempatnya dengan acara menyimpan kembali bibit padi yang tadi dikeluarkan selama upacara hormatan dilaksanakan kembali ke ruangan tempat penyipanan 
padi (pajemuhan/goah). Kegiatan ini merupakan acara terakhir dalam urutan upacara hormatan, dan dilakukan menjelang adzan subuh
 
Gambar 16
Ibu-ibu sedang mengembalikan bibit padi ke tempatnya lagi (goah/pajemuhan)
 
GambGambar 17
Saehu dan Paibuan mengatur acara nginebkeun


Syarat Menjadi Saehu dan Paibuan

Author: Rian Saepuloh /

Untuk menjadi seorang pemimpin tentunya syarat yang paling utama yakni harus dikenal dulu oleh anggotanya setelah dikenal kemudian aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh lingkungan sekitar. Sebagai contoh dalam kehidupan bermasyarakat ada seorang pemimpin yang disebut dengan Kepala Desa atau Kuwu yang membawahi sebuah Desa. Pemilihan Kuwu diadakan dengan pemilihan secara langsung oleh masyarakat. Secara logika, masyarakat belum tentu memilih seorang pemimpin apabila mereka sendiri tidak kenal dengan calon yang akan dipilih.
Seseorang dapat dipercaya menjadi Saehu ataupun Paibuan karena dalam setiap pergelaran Tarawangsa yang diadakan di lingkungannya selalu hadir sehingga lama-kelamaan akan tahu tata cara dan urutan dalam pelaksanaan upacara ritual, kemudian anggota masyarakat yang lainnya memberikan kepercayaan. 
Menjadi Saehu dan Paibuan bisa dijadikan jaminan akan menjadi tokoh di masyarakat, ukuran kepemimpinan di Rancakalong pada umumnya bagaimana dia menjadi Saehu atau Paibuan walaupun tidak secara otomatis. Seseorang dapat menjadi Saehu Atau Paibuan apabila : Faham urutan acara, pelaku dalam pergelaran, diturut oleh yang lain, tidak baku posisinya. Walaupun bukan merupakan syarat yang khusus, akan tetapi secara umum untuk menjadi Saehu dan Paibuan minimal memiliki kriteria seperti di atas. Menurut keterangan yang diperoleh dari informan, pernah dalam suatu pemilihan kepala Desa di salah satu Desa di kecamatan Rancakalong yang menjadi calonnya adalah seorang tokoh yang dalam pergelaran Tarawangsa dipercaya sebagai Saehu. 
Dari fenomena tersebut peneliti berasumsi bahwa pada masyarakat Rancakalong kalau seseorang sudah mendapat kepercayaan dari anggota masyarakat pendukung kesenian lainnya, maka akan dipercaya pula pada lingkungan sosial masyarakat dan kepercayaan tersebut akan tetap dipegang oleh masyarakat sampai muncul lagi tokoh baru yang dipercaya oleh masyarakat pada generasi selanjutnya. 
Jabatan yang dipegang oleh Saehu dan Paibuan hanya merupakan jabatan yang bersifat sementara yakni menjadi pemimpin hanya pada saat upacara berlangsung. Setelah acara selesai, maka selesai pula Saehu dan Paibuan menjadi pemimpin. Bukan pula jabatan yang turun-temurun, seperti halnya kepemimpinan dalam sebuah kerajaan.
Pada setiap pergelaran Tarawangsa, yang menjadi Saehu dan Paibuan tidak akan sama karena pada setiap daerah akan memiliki beberapa orang yang biasa menjadi Saehu ataupun Paibuan. Akan tetapi keputusan siapa yang akan menjadi Saehu dan Paibuan pada sebuah pergelaran Tarawangsa terletak pada kepercayaan yang punya rumah (rurukan). Rurukan biasanya mempercayakan untuk menjadi Saehu dan Paibuan kepada orang yang masih ada hubungan saudara/kerabat dengan Rurukan. kalau saudara tidak ada yang biasa menjadi Saehu atau Paibuan, maka rurukan akan memilih orang yang lebih dikenal dekat oleh rurukan, jadi tidak sembarangan rurukan mempercayai seseorang untuk menjadi Saehu dan Paibuan.
Orang yang menjadi Saehu dan Paibuan biasanya berumur antara 40 sampai 50 tahunan, hal itu bukan suatu keharusan tetapi memang kebiasaannya seperti itu. Dengan alasan kalau orang yang sudah tua sudah sering mengikuti pergelaran Tarawangsa sehingga sedikitnya sudah sering pula mengikuti atau menyaksikan tata urutan dalam pelaksanaan upacara hormatan terhadap Dewi Sri. Sebenarnya kalau ada yang sudah mampu dan siap untuk menjadi Saehu ataupun Paibuan pada umur 30 tahunan tidak apa-apa asalkan memang benar-benar siap dan juga sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat pendukungnya atau minimal di keluarga dan lingkungan sekitar tempat tinggalnya, hanya sampai saat ini baik Saehu ataupun Paibuan belum ada yang berumur dibawah 40 tahunan.


Tugas Pemimpin Tarawangsa (Saehu & Paibuan)

Author: Rian Saepuloh /

Seperti telah dijelaskan pada bab-bab terdahulu, bahwa dalam suatu pergelaran Tarawangsa yang diselenggarakan sebagai upacara hormatan selalu ada Saehu dan Paibuan. Perlu di garis bawahi, betapa pentingnya peranan Saehu dan Paibuan pada pergelaran Tarawangsa sebagai upacara hormatan kepada Dewi Sri serta arwah-arwah leluhur (karuhun) karena berdasarkan keterangan yang diperoleh dari informan bahwa seorang Saehu dan Paibuan adalah sebagai penggerak, pengatur, pengarah, dan promotor dalam pergelaran Tarawangsa, sehingga pada akhirnya dapat dilihat hasil kerja dari Saehu dan Paibuan dengan sukses atau tidaknya suatu pergelaran Tarawangsa.
Sukses atau tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa pada awalnya ditentukan oleh banyak tidaknya orang yang kesurupan (kasumpingan). Tetapi sekarang telah mengalami perubahan salah satunya diakibatkan oleh keadaan zaman yang senantiasa dinamis, hal-hal yang berbau mistik seperti itu sudah mulai dihilangkan dan lebih dimaknai secara logis seperti sesajen yang pada awalnya diyakini oleh masyarakat sebagai persembahan untuk Dewi Sri dan para leluhur (karuhun), akan tetapi kalu di telaah lagi sesajen itu merupakan salah satu ungkapan rasa syukur yang punya rumah/yang punya hajat dari hasil kebun, ladang, sawah dan hasil ternak, sehingga pada saat acara hormatan dipergelarkan hasil-hasil bumi tersebut diperlihatkan kepada para tamu yang datang walaupun hanya sedikit-sedikit. Sesajen itu juga merupakan sebuah simbol, bahwa dalam kehidupan kita tidak hanya membutuhkan padi saja tetapi juga yang lainnya. Setelah pergelaran Tarawangsa selesai, sesajen yang tadi disajikan diberikan kepada pemain musik Tarawangsa. 
Dengan semakin meningkatnya pendidikan masyarakat sehingga akan mempengaruhi pola pikir masyarakatnya, sekarang orang sudah bisa merubah keyakinan mengenai sukses tidaknya sebuah pergelaran tidak lagi ditentukan oleh banyak tidaknya orang yang kesurupan, tetapi sebuah pergelaran dikatakan sukses apabila banyak tamu yang hadir baik dari sekitar lingkungan tempat diadakannya pergelaran Tarawangsa ataupun dari masyarakat luar lingkungan ataupun luar daerah yang ingin menyaksikan pergelaran tersebut. 
Saehu dan Paibuan hanya ada ketika Tarawangsa di pergelarkan sebagai upacara hormatan kepada Dewi Sri dan Upacara-upacara lainnya yang berbungan dengan siklus kehidupan manusia seperti kelahiran, khitanan, pernikahan dan lain sebagainya. Ketika Tarawangsa dipergelarkan hanya dalam bentuk instrumental ataupun untuk kebutuhan pengiring tari yang bukan untuk kebutuhan upacara ritual tidak perlu ada Saehu dan Paibuan. 
Baik Saehu maupun Paibuan merupakan orang yang pertama menari pada saat pergelaran Tarawangsa. Biasanya diawali dengan Angkenan, dimana Saehu ataupun Paibuan melakukan pemanggilan terhadap Dewi Sri serta para leluhur (karuhun) untuk hadir pada acara tersebut yang digambarkan dengan gerak seperti sembahan yang dilakukan ke empat arah (madhab) yakni arah timur, selatan, barat, dan utara karena menurut keyakinan mereka tidak tahu Dewi Sri dan para leluhur (karuhun) sedang ada dimana makanya dipanggilah ke setiap arah. Gerak pokok pada Saehu yakni gerak badaya, berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Cucu. S tanggal 19 April 2007 yang dimaksud gerak badaya disini yakni gerak pembuka. Sedangkan gerak pokok Paibuan yakni keupat eundang sebagai gerak pembuka juga. Dalam buku karangan direktori seni pertunjukan tradisional diungkapkan bahwa. 
  Badaya Rancakalong, ditarikan secara tunggal oleh seorang laki-laki yang disebut pangramaan (penari badaya) selama + menit. Sebelum menari, pangramaan duduk menghadap sesajen yang terdiri dari seperangkat pakaian lengkap Dewi Sri, tumpeng dan perlengkapan lainnya sambil membaca mantera lalu menyembah ke empat madhab. Tari ini merupakan penghormatan kepada Dewi Sri (1999:28).
Akan tetapi berdasarkan keterangan hasil wawancara di atas tadi disebutkan bahwa gerak badaya yang dibawakan oleh Saehu yakni berdiri seperti pada gambar 03 di bawah ini, 

 

Gambar 03
Saehu sedang gerak Badaya


Saat duduk Saehu hanya membacakan do’a saja seperti tampak pada gambar 03.
 
Gambar 04
Saehu berdo’a sebelum menari

Sedangkan Paibuan melakukan gerak badaya sambil duduk seperti tampak pada gambar 04. 
 
Gambar 05
Paibuan melakukan sembahan ke berbagai arah

Setelah peneliti menyaksikan pergelaran Tarawangsa di beberapa tempat yang berbeda, peneliti berasumsi ketika Saehu melakukan gerak badaya ada yang sambil duduk, ada pula yang sambil berdiri. Tetapi untuk Paibuan pada umumnya sama yakni sambil duduk. Walaupun ada perbedaan tata cara, akan tetapi masyarakat akan saling menerima perbedaan tersebut asal tidak mengurangi nilai-nilai kesakralan dalam upacara hormatan yang dilaksanakan.
Istilah gerak yang khas untuk Paibuan disebut keupat eundang, geraknya memang keupat sambil mengayunkan tangan tapi ditempat, dapat dilihat pada gambar 05.


Gambar 06
Paibuan bergerak keupat eundang
(Foto: Dewi Yulianti, 2006)



 Tugas Saehu danPaibuan Pada Upacara Hormatan Dewi Sri 
Di atas telah dipaparkan, bahwa peranan Saehu dan Paibuan itu sangatlah penting. Saehu dan Paibuan berfungsi sebagai penggerak, pengatur, penuntun dan pemimpin ketika Tarawangsa dipergelarkan sebagai upacara hormatan. Akan tetapi jika Tarawangsa dipergelarkan hanya secara instrumental maka tidak perlu ada Saehu dan Paibuan karena tidak ada urutan acara yang harus dilaksanakan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, Tugas Saehu dan Paibuan dalam perglaran Tarawangsa yakni memeriksa sesajen yang disiapkan yang berupa segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia dari hasil pertanian, peternakan, juga segala sesuatu yang biasa di konsumsi oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya.